Kebiasaan Positif Perlu Dipaksakan

Demi mendapatkan hasil yang maksimal, kebiasaan-kebiasaan positif harus dipaksakan!

Banyak orang belajar, banyak orang bekerja ekstrakeras, namun ada banyak pula yang merasa tak kunjung sukses.  Apa sebenarnya yang membedakan orang-orang ini dengan orang yang bisa mendobrak kesuksesan ? Dan semua kembali ke pola pikir. Jika mindset kita sudah diatur sedemikian rupa dengan pengertian tentang kesuksesan, maka otomatis diri kita memberikan standar untuk mencapai apa yang telah kita canangkan. Untuk itu, memang butuh target besar dan menantang yang harus diraih. Kepercayaan diri untuk menentukan target besar dari pola pikir yang terlatih karena muncul dari kebiasaan-kebiasaan positif.

Jadikan paksaan sebagai jalan menuju perbaikan.  Sangat penting paksaan  untuk membuat seseorang berubah kebiasaannya. Setidaknya, ada tiga tingkatan yang bisa digambarkan tentang pentingnya paksaan untuk mengubah tindakan seseorang. Yang pertama, orang bisa dipaksa karena terpaksa. Misalnya, karena harus lulus ujian, seorang pelajar terpaksa belajar keras hingga tidak tidur. Padahal, biasanya ia tidak betah begadang. Namun, biasanya, jika ini yang terjadi hasilnya kurang maksimal karena ada rasa tertekan akibat paksaan.  Yang kedua, orang dipaksa karena memaksa. Jadi, ini sifatnya lebih aktif. Misalnya, seorang atlet pelari atau angkat besi. Mereka tahu tugasnya sebagai atlet untuk meningkatkan performa harus dengan latihan dan bekerja ekstrakeras.  Karena itu, mereka memaksa diri untuk berbuat yang terbaik. Dari latihan-latihan inilah, jika serius, mereka akan mampu jadi atlet unggulan. Yang ketiga, orang dipaksa karena sadar. Inilah  kondisi yang sebenarnya harus bisa kita implementasikan untuk membiasakan diri melakukan berbagai tindakan positif. Sebab, pada tahap ini, kita kan merasa lebih menikmati “paksaan” sehingga akhirnya itu benar-benar mampu menjadi kebiasaan. Dan jika diteruskan, seterusnya akan jadi karakter unggulan. Apalagi jika diteruskan dan ditularkan, akan terbentuk masyarakat unggulan yang pada ujungnya membentuk budaya sebuah bangsa. Ini bisa kita lihat misalnya dari kebiasaan disiplin dan bekerja keras bangsa korea selatan atau Jepang.

Inti perihal kebiasaan adalah bagaimana kita bisa konsisten membangun kebiasaan-kebiasaan positif hingga akhirnya benar-benar jadi. Sebab, tanpa dibiasakan atau diasah, orang yang berbakat sekali pun, tak akan bisa mengaktualisasikan diri mencapai sukses seperti yang diharapkannya.

Sumber “Majalah Motivasi Luar Biasa” edisi Maret 2010

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s